Media Coverage from SWA – 26 July, 2019




Tiongkok terus melebarkan sayap dan memperkuat pengaruhnya di kancah perdagangan inaternasional. Bukan saja dalam perdagangan barang, juga dalam mendorong renminbi, mata uang Tiongkok agar mendapat tempat dalam transaksi dagang sejajar dengan US$.

Upaya Tiongkok dalam menggaungkan renminbi agar bisa diterima dalam transaksi dagang  di Indonesia, salah satunya melalui gelaran “FPCI-BOC CFO Forum 2019: Understanding the Growing Role of Chinese Renminbi in Internasional Business” , yang merupakan forum diskusi yang terselenggara atas kerja sama antara Bank of China dengan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI).

Menurut Loto Srinaita Ginting, Direktur Surat Utang Negara DJPPR Kementerian Keuangan RI, selepas diskusi, Indonesia saat ini telah menggunakan kurs US$, Euro, Yen dalau utang negara. “Kemungkinan penggunaan renminbi tentu saja sedang kami pertimbangkan untuk eksposur dalam mata uang Tiongkok itu. Hanya saja kita harus mempertimbangkan kenyamanan investor, apakah mata uang itu kompetitif atau tidak serta ketersediaannya di pasar konsisten atau tidak,” terang di Soehana Hall Energy Building (25/07/2019).

Hal senada disampaikan Dino Patti Djalal yang juga Pendiri FPCI, peluang renminbi tentu saja ada, hanya saja belum dalam jangka waktu pendek ini. Apalagi, Tiongkok sendiri belum sepenuhnya menggunakan renminbi dalam transaksi dagangnya, sebagian masih menggunakan US$.

Mantan Dubes Indonesia untuk Amerika ini menambahkan, saat ini baru 10% saja, walau ini pun belum pasti angkanya, tapi ia meyakini angka
ini akan terus meningkat seiring upaya pemerintah Tiongkok dalam strategi One Belt One Road (OBOR) yang mulai gencar dikampanyekan. Untuk diketahui  OBOR merupakan strategi pembangunan yang diusulkan oleh pemimpin tertinggi Tiongkok Xi Jinping sejak 2013.  

“Tentu saja ini akan meningkat seiring makin banyaknya bank-bank dari Tiongkok membuka cabang di sini,” imbuhnya.  Renminbi tentu saja akan makin banyak digunakan ketika mitra dagang dari Tiongkok makin banyak terjalin dengan pelaku bisnis di Indonesia.

Dengan kondisi US$ yang fluktuatif saat ini, Dino memandang renminbi memiliki peluang meningkat digunakan di Indonesia, mengingat mata uang Tiongkok itu risikonya lebih kecil. Dino melanjutkan, hanya saja saat ini dominasi US$ masih menguasai perdagangan internasional, mengingat US$ lebih bebas dan terbuka, sedagkan renminbi dikontrol pemerintah Tiongkok.

Forum ini merupakan sebuah kegiatan yang mempertemukan para Chief Finansial Officer dari perusahaan – perusahaan ternama dan berpengaruh di Indonesia dengan pengamat dan penjabat pemerintah untuk berdiskusi secara mendalam perihal penggunaan mata uang renminbi dalam bisnis internasional yang saat ini tengah menjadi perhatian di Indonesia.

Penggunaan renminbi dalam perdagangan Indonesia tercatat pada tahun 2018, mengutip laporan SWIFT International, jumlah penyelesaian RMB di Indonesia mencapai RMB 317 miliar. Volume likuidasi yang dicapai oleh Bank of China Cabang Jakarta menyumbang 63,4% dari total likuidasi Indonesia atau setara RMB 201 miliar. Ini menjadikan penggunaan Bank of China menjadi nomor satu di pasar.

Dari 2014 hingga 2018, jumlah likuidasi RMB yang dicapai oleh Bank of China Cabang Jakarta untuk tahun keempat berturut-turut menyumbang 61%, 61%, 58% dan 60% dari total jumlah Indonesia. Dengan data tersebut,Bank of China Cabang Jakarta adalah pemasok uang tunai konsumen terbesar dan satu-satunya pembeli uang tunai legal di Indonesia.

Bank of China tercatat terlibat dalam berbagai proyek pembangunan infrastruktur Indonesia dan proyek interkoneksi, yang melibatkan jalan raya, minyak dan gas, pertambangan, transportasi, listrik dan industri lainnya, pembiayaan langsung hampir US$ 700 juta. Sedangkan dalam ekspor produk Indonesia dan pengembangan usaha konsumen mata pencaharian masyarakat, yang melibatkan pertanian, ritel, penyulingan minyak sawit dan proyek-proyek lainnya, pembiayaan langsung hampir US$ 245 juta.


See the Article here




Recommended Posts